Seni Rupa Dalam Kebudayaan Islam

Bookmark and Share



Boleh tidaknya penciptaan gambar dalam kebudayaan Islam masih menjadi perdebatan. Sebagian tokoh Islam menyatakan, penciptaan gambar dilarang, apalagi yang menggambarkan mahluk hidup.

Sebagian lainnya menyatakan, penciptaan gambar diizinkan sepanjang untuk tujuan-tujuan baik, seperti untuk pendidikan misalnya, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Quran sendiri tidak ada menyebutkan penciptaan gambar dilarang, pelarangan disebutkan ada dalam sejumlah hadis.

Sejumlah tokoh Muslim menyatakan seni itu, termasuk penciptaan gambar, diizinkan dalam ajaran Islam. Qurais Sihab tokoh pemikir Muslim menyatakan, Islam agama fitrah. Segala yang bertentangan dengan fitrah ditolaknya dan yang mendukung kesucian ditopangnya. Seni adalah fitrah; kemampuan berseni merupakan perbedaan manusia dengan mahluk lain.

Pendapat Qurais Sihab yang memperbolehkan seni dalam kehidupan manusia, satu dari sejumlah pendapat tokoh pemikir Muslim. Adanya lampu hijau dari sejumlah tokoh Muslim memberi peluang bagi para seniman untuk tetap berkarya dan menciptakan senirupa. Penciptaan gambar dalam kebudayaan Islam disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, sehingga penciptaan gambar dalam kebudayaan Islam kaya dengan berbagai corak dan nilai-nilai estetika.


Gambar Dekoratif

Gambar mahluk hidup seperti hewan dan manusia direduksi menjadi motif-motif dekoratif dalam kebudayaan Islam. Gambar dekoratif menjadikan gambar tidak lagi tampak seperti aslinya yang dilihat mata. Gambar wayang misalnya, salah satu gambar dekoratif yang muncul dari pengaruh Islam di Nusantara. Wayang pada awalnya digambarkan sesuai dengan anatomi manusia baik pada bentuk maupun proporsinya. Gambar wayang setelah digubah menjadi dekoratif. Tidak lagi terkesan manusia, tetapi tetap sekedar sebagai gambar wayang. Meski demikian, penggambaran dalam corak dekoratif, tidak mengurangi keindahan gambar. Gambar wayang dalam corak dekoratif, justru tampak lebih indah dari sebelumnya.

Gambar dekoratif juga muncul di berbagai kebudayaan lain di dunia yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Gambar-gambar dekoratif ditemukan di sejumlah negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Persia, Irak, Turki, Pakistan dan sejumlah negara lainnya. Lukisan yang menggambarkan orang menunggang kerbau dan dua orang pengawalnya dengan latar belakang pepohonan dibuat pada permukaan mangkuk. Lukisan ini diperkirakan dari abad ke-12 dari dinasti Seljuk Persia.

Lukisan dalam corak dekoratif lainnya ditemukan di Turki. Lukisan ini menggambarkan pemakaman Sultan Murad III, dibuat sekitar abad ke-16. Lukisan-lukisan dekoratif lainnya juga banyak dijumpai dalam bentuk miniatur (ilustrasi buku) dalam kebudayaan Islam.


Seni Rupa dalam Kebudayaan Islam

Adanya pendapat melarang menggambar mahluk hidup tidak membuat seniman Muslim kehilangan kreativitas. Adanya larangan ini mendorong sejumlah seniman Muslim mencari solusi-solusi agar tetap dapat berkarya, namun tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Munculah berbagai ide kreatif dalam menciptakan karya seni rupa yang justru memperkaya corak dan estetika senirupa di dunia Muslim.

Gambar-gambar dekoratif, abstrak, hingga kaligrafi muncul dan berkembang pesat di dunia Muslim. Seni kaligrafi bahkan menjadi seni yang sangat menonjol melebihi kaligrafi-kaligrafi dari bangsa manapun di dunia ini.

Seni Rupa Abstrak

Senirupa abstrak berkembang pesat dalam senirupa Islam. Senirupa abstrak muncul dalam karya lukisan, grafis, maupun hiasan dalam arsitektur bangunan-bangunan keagamaan atau bangunan-bangunan umum. Jika bangunan-bangunan keagamaan maupun umum di Eropa, dipenuhi dengan gambar-gambar representasional, di dunia Islam justru gambar-gambar representasional tidak muncul.

Corak abstrak mendominasi hiasan-hiasan bangunan di dunia Islam. Keindahan corak abstrak ini bahkan mempengaruhi seniman Eropa terkenal Mauritis Cornelis Escher.

Herbert Read penulis terkenal senirupa moden dari Barat menegaskan, sejumlah seniman Eropa menunjukkan jejak-jejak pengaruh seni Islam. Karya seni Escher menunjukkan adanya pengaruh setelah perjalanannya di wilayah dunia Muslim terutama di Tunisia, Afrika Utara. Karya-karya Escher yang memberi pengaruh optis pada pemirsa terinspirasi dari dekorasi masjid Al Hambra.


Karya seniman besar Escher yang sudah sangat terkenal antara lain berjudul Sun and Moon. Karya Escher ini menggambarkan burung merpati putih dan abu-abu dalam pola-pola geometris dalam komposisi balans simetris. Centre of interest atau pusat perhatian lukisan terletak pada tengah-tengah bidang gambar. Burung merpati putih dan abu-abu dengan pola-pola geometris disusun secara berdempetan tanpa ruang sela di antara keduanya. Pembatas hanya berupa kontur yang membentuk gambar merpati putih dan abu-abu. Karya Escher terkenal lainnya adalah Day and Night. Karya ini menggambarkan sekawanan burung putih dan hitam terbang di atas awan dalam bentuk geometris.

Komposisi karya seperti ini merupakan ciri khas pada seni rupa Islam berupa stilisasi berbagai bentuk tanaman atau mahluk hidup yang disusun silang menyilang, sehingga tidak menyisakan ruang. Unsur-unsur senirupa berupa amorf, geometrik, maupun biomorphic Islam sangat kuat pada karya seni rupa seperti itu.

Seni Kaligrafi

Senikaligrafi berkembang pesat di dunia Islam. Sifat aksara Arab yang fleksibel untuk digubah menjadi garis-garis artistik telah melahirkan berbagai jenis aksara Arab. Ada ribuan jenis aksara Arab, namun pada dasarnya bentuk aksara Arab dapat dikategorikan dalam delapan jenis bentuk baku, yaitu naskhi, kufi, thuluts, diwani, diwani jali, riqah, farisi, dan raihani.


Ismail R. Al Faruqi seorang ahli kebudayaan Islam menggolongkan beberapa jenis seni kaligrafi kontemporer yang berkembang di dunia Muslim. Jenis kaligrafi ini antara lain jenis kaligrafi tradisional, kaligrafi figural, kaligrafi ekspresionis, kaligrafi simbolis dan kaligrafi abstrak murni.

Seni kaligrafi, juga muncul di Indonesia. Sejumlah pelukis kontemporer menggunakan media ini untuk ekspresi karya seninya. Para pelukis yang menggunakan aksara Arab sebagai media ekspresi seninya antara lain Abdul Djalil Pirous, Abay Subarna, Syaiful Adnan, Amri Yahya, Agus Kamal dan Hendra Buana.

Indonesia, negara dengan jumlah populasi Muslim terbesar di dunia, namun demikian tulisan Arab hanya dipelajari dan dipergunakan dalam pendidikan di sekolah-sekolah Islam dan tidak diajarkan di sekolah umum. Tulisan Arab juga tidak menjadi tulisan resmi. Dalam sejarah Indonesia, aksara Arab pernah dipergunakan sebagai tulisan resmi pada zaman kesultanan Iskandar Muda di Aceh (1607-1636).

Tulisan Arab meskipun tidak menjadi tulisan resmi, alangkah baiknya jika seni kaligrafi juga diajarkan di sekolah-sekolah. Insitut seni di Indonesia juga belum mengajarkan seni kaligrafi. Universitas Negeri Medan yang juga memiliki Fakultas Bahasa dan Seni satu-satunya di Sumatera Utara juga tidak pernah memasukkan seni kaligrafi sebagai matakuliah. Sebenarnya ini sebuah ironi, karena seni yang sangat menonjol dari dunia Islam justru tidak pernah dipelajari di tengah-tengah masyarakat muslim terbesar di dunia. Sementara di negeri-negeri Barat, kaligrafi ini tengah dipelajari dengan antusias oleh para ahli.

http://www.analisadaily.com

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar